Kerasukan Abu Jahal

Home / Opini / Kerasukan Abu Jahal
Kerasukan Abu Jahal Ach Dhofir Zuhry, pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan Ketua Sekolah Tinggi Filsafat Al-Farabi, buku terbarunya: Peradaban Sarung dan Kondom Gergaji. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESCILEGON, MALANG – Jika ada yang beragama dan menyembah-nyembah agama dengan mempersetankan agama lain, maka ia sedang kesurupan Abu Jahal. Bila ada yang hanya memiliki secuil dari cuilan-cuilan ilmu tapi merasa tahu segala hal dan mempersetankan setiap kebenaran di luar dirinya, maka ia sedang kerasukan Abu Lahab. Apabila ada yang berpolitik dan menganggap partai politiknya yang paling suci dan pemegang kunci surga, maka sekali lagi, ia sedang kerasukan Abu Jahal, Abu Lahab dan Osama bin Laden sekaligus. 

Merekalah para penganut mazhab sotoyisme, yakni kaum cuti nalar dan tuna pustaka, bani otak cingkrang dan defisit ilmu, namun merasa paling benar sendiri di muka bumi. Ciri-ciri mereka? Ya, ciri-ciri orang kesurupan, gemar teriak-teriak di jalanan dengan pengeras suara pula, melotot dan meninju-ninju ke udara, menuding-menuding dan menunjuk-menunjuk ke segala arah, sebentar-sebentar takbir disertai caci-umpatan. Gerombolan kesurupan ini adalah pasukan nasi bungkus (panasbung), tapi justru menyebut diri mereka mu

jahid, pembela agama dan Nabi. Para begundal berbaju Abu Jahal itu gemar bawa pentungan, dan memang bakat terbesar mereka adalah razia dan sweeping, bukan berpolitik dan apalagi menjadi ilmuwan.

Pertanyaan kampungan yang bisa kita sodorkan: apa muasal dari itu semua? Hanya satu, yakni berhenti belajar karena merasa paling benar. Konsekuensinya? Selain diri dan kelompoknya pasti salah dan auto-neraka. Padahal, mereka adalah buih di lautan politik agama, mereka adalah masyarakat daun kering yang gampang dibakar, setelah itu hangus dan menjadi abu politik agama.

Sayyid Aristoteles pernah memberi wejangan bahwa sejatinya setiap orang menghasrati pengetahuan. Tak ada yang mau bodoh dan apalagi dibodoh-bodohi oleh apa-siapapun. Itu artinya, dalam segala bidang, semua tindakan harus dilandasi ilmu, setiap perbuatan harus berlandaskan pengetahuan, tanpa terkecuali dalam berpolitik, beragama, berbudaya dan bahkan bernegara. Semuanya harus dalam jagad ilmu, di bawah arasy pengetahuan. Menolak fakta ini, berarti melecehkan anugerah istimewa dari Tuhan bernama akal.

Sehebat apapun yang Anda gagas dan Anda inginkan, tidak akan pernah mengalahkan yang Anda lakukan. Jangan lupa, tindakan adalah pikiran yang bergerak, bukan tergeletak dan lalu mengendap di almari ide-ide. Berpikir dan dan bertindak adalah satu kesatuan. Kesalahan kita adalah karena hanya bertindak tanpa berpikir dan sebaiknya cuma berpikir tanpa pernah bertindak.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com